Tag Archive Monumen Jogja Kembali

Bakmi Mbah Gito, Tempat Makan Unik di Jogja

Sumber: Google.

Jogja selain dikenal sebagai kota pelajar juga dikenal sebagai tempat wisata dengan paket lengkap. Wisata alam? Ada deretan pantai indah yang siap memanjakan mata. Wisata budaya dan sejarah? Ada Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Monumen Jogja Kembali, hingga Tugu Jogja. Wisata kuliner? Jelas tak perlu ditanyakan lagi kota ini punya segudang jenis makanan unik yang tak bisa kamu temui di tempat lain. Lantas, tempat makan unik apa yang harus kamu kunjungi di Jogja? Banyak orang mengatakan kalau soal rasa beragam makanan Jogja cenderung menonjol rasa manis. Tidak mutlak salah, karena memang hampir kebanyakan olahan Gudeg yang menjadi oleh-oleh khas Jogja mempunyai rasa manis yang dominan. Selain Gudeg ada juga penganan khas Jogja yang manis yaitu Bakpia Pathok.

 

Namun selain dua makanan di atas masih banyak lagi makanan-makanan unik yang harus kamu coba terlebih lagi jika kamu suka wisata kuliner. Mulai dari Angkringan, Kopi Jos, Sate Klathak, hingga Bakmi Jawa. Di Jogja kamu akan banyak menemui penjual bakmi jawa. Mulai dari yang menjajakannya dengan cara keliling menggunakan gerobak hingga yang sudah punya nama besar. Dari sekian banyak penjual bakmi jawa ada satu warung bakmi yang sangat legendaris dan hampir pasti didatangi para pecinta kuliner. Namanya Bakmi Jawa Mbah Gito. Apa yang membedakannya dari bakmi jawa pada umumnya?

 

Bakmi Jawa Mbah Gito

Sumber: Google.

Sekilas namanya biasa saja. Namun tempat ini sangat berbeda dari segi pengolahan mie sebagai bahan dasar hingga bangunannya yang sangat unik. Warung Bakmi Jawa Mbah Gito ini menyuguhkan olahan mie yang sangat khas. Bumbu yang lengkap, hanya menggunakan daging ayam kampung, dan menggunakan telur bebek sebagai pelengkap sajian bakmi ala Mbah Gito inilah yang menjadi pembeda dari bakmi jawa lainnya. Berkat kekayaan bumbu yang digunakan inilah kemudian menghasilkan rasa gurih yang kuat dan khas. Selain bakmi godhog dan bakmi goreng tempat ini juga punya menu andalan lain. Namanya magelangan yang sekilas menyerupai nasi goreng namun ada mie yang ditambahkan sebagai kombinasi olahan makanan ini.

Sumber: Google

Bangunan tempat ini juga tak kalah menarik dari lezatnya hidangan bakmi godhog dan bakmi gorengnya. Dari kejauhan terlihat seperti bangunan gubuk reyot namun jika kamu sudah masuk ke dalamnya suasana jadul dengan kebersihan tempat di dalamnya dijamin akan membuatmu nyaman. Hampir seluruh material bangunannya berbahan kayu lengkap dengan adanya pohon di tengah-tengahnya. Adanya cangkul, palu, arit, alat bajak sawah, dan tembang jawa yang biasa diputar membuat pengunjung akan merasakan sensasi wisata kuliner yang sangat beda. Bukan tanpa alasan Sugito atau Mbah Gito sang pemilik menaruh hiasan yang tak biasa itu karena menurutnya perkakas tani itu sengaja ia hadirkan untuk mengingat kerja keras orang tuanya dulu yang berprofesi sebagi petani. Bahkan konon dulu sebelum dijadikan tempat makan bangunan ini adalah kandang sapi.

Sumber: Google

Hal unik lainnya yang ada di tempat ini adalah para juru masak dan pelayannya yang menggunakan pakaian surjan lengkap dengan ikat kepala yang mencerminkan kehidupan masyarakat jaman dulu. Surjan adalah baju tradisional jawa yang biasa dikenakan oleh petani dan masyarakat pada umumnya di jaman dulu. Karena banyaknya pelanggan Bakmi Jawa Mbah Gito ini tak jarang pengunjung harus menunggu sedikit lebih lama jika tempat di dalam masih penuh. Jika sudah ada tempat kosong kemudian pengunjung akan dihampiri oleh pelayan dan diantarkan menuju tempat yang sudah kosong.

Beralamat di Jalan Nyi Ageng Nis, Depokan Lor, Peleman, Kelurahan Rejowinangun, Kecamatan Kotagede, Yogyakarta tak sulit untuk menemukan warung Bakmi Jawa Mbah Gito ini. Selain itu harga untuk satu porsi bakmi godhog dan bakmi goreng mbah gito hanya dibanderol Rp 20.000,-saja. Masih sangat ramah di kantong bukan? Apalagi dengan tempat makan yang sangat unik dan nyaman seperti ini.
TAGS

Tempat Makan Unik di Jogja, Wisata Kuliner di Jogja, Bakmi Jawa Mbah Gito, Jajanan Khas Jogja, Gudeg Jogja, Bakpia Pathok, Tugu Jogja, Monumen Jogja Kembali, Kraton Jogja, Pantai Jogja, Angkringan, Kopi Jos

Kemegahan Monumen Jogja Kembali (Monjali)

Untuk mengenang sejarah perjuangan para pahlawan Republik Indonesia pada serangan umum 1 maret 1949 yang dipimpin oleh Letkol Soeharto di Yogyakarta. Maka dari peristiwa tersebut dibangunlah Monumen Jogja Kembali atau biasa disingkat dengan sebutan “Monjali”. Untuk lebih mengenalnya, ayo kunjungi langsung Monumen Jogja Kembali yang berlokasi di Dusun Jongkang, Desa Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman. Sebelum mengenal lebih jauh tentang Monumen Jogja Kembali mimin akan ceritakan terlebih dulu mengenai sejarahnya.

Monumen Jogja Kembali

Monumen Jogja Kembali

Pendirian Monumen Jogja Kembali merupakan sebagai bukti sejarah bahwa perlambang kembalinya Pemerintah Republik Indonesia yang berhasil memukul mundur pasukan Belanda dari Jogja pada 29 Juni  1949 serta pada 6 Juli 1949 kembalinya ke Yogyakarta dari Pengasingan, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta dan para pejabat lainya.

Bukti sejarah ini bermula di Yogyakarta pada tanggal 1 Maret 1949 pukul 06.00. Terjadi serangan umum besar-besaran yang dipimpin oleh Letkol Soeharto Komandan Brigade 10 daerah Wehrkreise III yang melakukan gempuran setelah mendapat persetujuan dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai penggagas dari serengan tersebut Setelah melihat keadaan dari pasukan Belanda yang sejak satu bulan disebar pada pos-pos kecil, terpencar dan lemah.

Monumen Jogja Kembali

Monumen Jogja Kembali

Disaat pukul 06.00 sirine waktu istirahat pasukan Belanda berbunyi dan disaat itulah pasukan TNI menyerang dengat kekuatan penuh. Pertarungan sengit pun tak terhindarkan, dan akhirnya tepat 6 jam pertempuran pasukan Belanda pun dapat dipukul mundur dan TNI berhasil menduduki Yogyakarta. Dan pada akhirnya pukul 12.00 siang karena bantuan pasukan Belanda datang , TNI pun kembali menarik diri dari Yogyakarta.

Pertempuran tersebut dikenal dengan Serangan Umum 1 Maret atau disejarah disingkat dengan (SEMAR), yang merupakan bukti ke Dunia Internasional bahwa TNI masih mempunyai kekuatan untuk mengusir para penjajah.

Perlawanan TNI yang terjadi selama 6 jam beritanya tersebar kemanan-mana. Yang mulanya berita ini dikabarkan ke Wonosari, kemudian  Ke Bukit Tinggi, lalu Birma, New Delhi (India) dan pada akhirnya berakhir di Kantor pusat PBB New York. Dari kabar tersebut PBB mengangap Indonesia telah merdeka, kemudian memaksa mengadakan Komisi Tiga Negara (KTN). Pertemuan yang berlangsung di Hotel Des Indes Jakarta pada tanggal 14 April 1949 yang dihasilkannya perjanjian Roem Royen (Roem Royen Statement), isi dari perjanjian tersebut diantaranya : Memulangkan Presiden dan Wakil presiden dan menarik mundur seluruh pasukannya dari Indonesia. Dan pada akhirnya pada tanggal 27 Desember secara resmi belanda menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia.

Monumen Jogja Kembali dirancang berbentu kerucut dengan tinggi 31, 8 meter. Terdiri dari tiga lantai yang pembangunanya selesai selama empat tahun. Diresmikan oleh Presiden RI waktu itu, Soeharto pada tanggal 6 Juli 1989. Bentuk kerucut dipilih karena menyerupai gunung yang menjadi perlambang kesuburan selain memiliki makna melestarikan budaya nenek moyang.

Lokasi pendiriannya pun juga tak sembarangan, karena memiliki alasan yang berlatarkan budaya Jogja, yaitu monument yang terletak pada sumbu atau poros imajiner yang menghubungkan antara Kraton, Tugu, Gunung Merapi, Panggung Krapyak dan pantai Parangtritis. Sumbu Imajiner adalah Sumbu Besar Kehidupan atau sumbu Makrokosmos. Untuk titik imajinernya bisa anda lihat pada lantai tiga ditempat tiang bendera berdiri.

Dalam memasuki area monument kita akan disambut oleh replica Pesawat Guntai didekat pintu barat, dan pesawat Cureng didekat pintu timur. Dihalaman museum terdapat dinding yang memenuhi sisi selatan dengan 422 nama-nama para pejuang yang telah gugur pada 19 Desember 1948 hingga 29 Juni 1949, dan untuk mengenang para pahlawan yang tidak diketahui namanya ditulis puisi Karawang Bekasi karya Chairil Anwar.

Untuk dapat memasuki bangunan utama yang dikelilingi oleh kolam (jagang), bisa melalui emat jalan. Jalan utara dan selatan akan terhubung dengan tangga yang menuju lantai dua pada dinding luar yang melingkari bangunan terukir 40 relief yang menggambarkan peristiwa perjuangan bangsa mulai 17 Agustus 1945 hingga 28 Desember 1949. Didalam bangunan terdapat 10 diorama melingkari bangunan yang menggambarkan situasi saat Belanda menyerang maguwo pada 19 Desember 1948, Perjanjian Roem Royen, Serangan Umum satu maret, dan Proklamasi 17 Agustus 1949 di Gedung Agung Yogyakarta.

Monumen Jogja Kembali

Tandu peninggalan Panglima Besar Jendral Sudirman (Monumen Jogja Kembali)

Sedangkan di jalan barat dan timur menghubungkan dengan pintu masuk lantai satu yang terdiri dari empat ruang museum yang menyajikan seragam tentara pelajar, dokar dan kursi tandu Panglima Besar Jendral Sudirman yang masih tertata rapi. Terdapat 1.000 koleksi tentang Serangan Umum Satu Maret, hingga perjuangan sebelum kemerdekaan, dan Kota Yogyakarta menjadi ibukota RI. Ada juga ruang Sidang Utama, yang letaknya bersebelahan dengan ruang museum I. dan tak ketinggalan terdapat ruangan berbentuk lingkaran berdiameter 25 meter yang berfungsi sebagai ruang serbaguna, biasanya disewakan untuk seminar ataupun pesta pernikahan.

Di Lantai paling atas terdapat ruangan bernama Garbha Graha yang berfungsi sebagai tempat untuk merenungi perjuangan para pahlawan dan mendoakannnya. Diruangan ini terdapat relief gambar tangan yang menggambarkan perjuangan fisik didinding barat dan diplomasi didinding timur. Dilengkapi juga dengan tiang bendera yang dipasang bendera merah putih ditengah ruangan. Untuk lebih detailnya saksikan video berikut oleh Museum Yogyakarta (Museum Monumen Yogya Kembali)

Berikut video yang lain mengenai Monumen Jogja Kembali oleh Moh Fahmi Ghozali [MONJALI – MONUMEN JOGJA KEMBALI (JAS MERAH)]

Monumen Jogja Kembali merupakan sarana dan prasarana yang sangat baik bagi kita untuk mengenal lebih jauh tentang perjuangan bangsa Indonesia dalam memperoleh kemedekaannya. Menjadi sarana belajar juga untuk anak sekolah. Marilah kita sebagai generasi penerus, ikut melanjutkan perjuangan para pahlawan dengan menjadi individu sesuai dasar Negara untuk ikut dalam mewujudkan mimpi bangsa Indonesia dalam menghadapi masa-masa yang sekarang ini. Jayalah negriku, jayalah indonesiaku.

Taman Pelangi

Taman Pelangi (taman Lampion)

Di Monjali juga terdapat taman lampion (taman pelangi) yang sangat cocok untuk bersantai, yang buka disore hari hingga tengah malam. Darma Jaya Tour & Travel dalam menyediakan paket wisata Jogja, juga menyediakan paket wisata Monumen Jogja Kembali (Monjali) dan Taman Pelangi. Untuk lebih detailnya silahkan bisa hubungi kami dinomor dan alamat yang sudah tertera. Salam Wisata 😀

Fasilitas Monumen Jogja Kembali

-Toilet

-Mushola

-Taman Pelangi untuk anak

-Tempat Parkir

-Rumah Makan dan lain-lain

Harga Tiket Monumen Jogja Kembali

-Rp. 10.000,-/orang (Monjali)

-Rp. 10.000,-/orang (Senin-Kamis) Taman Pelangi

-Rp. 15.000,-/orang (jum’at- Minggu/Libur) Taman Pelangi

Rute menuju Monumen Jogja Kembali

Lokasi Monumen Yogya kembali ada di pinggir Ringroad utara, untuk mencapai lokasi ini dapat menggunakan Kendaraan umum berupa Trans Jogja Jalur 2A dan 2B turun di Halte Monjali.

Untuk lebih detailnya silahkan bisa melalui Google Map berikut :